Asuhan Kehamilan dan Persalinan pada Ibu dengan Penyakit
Asma Bronkhial
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Asuhan Kebidanan Patologis
Disusun
Susana Endang ( 044228120037 )
AKADEMI KEBIDANAN
BANDUNG
YAYASAN CIARA PUTRI
2013
Jln. LNU
Nurtanio/Garuda No.79/83 Bandung Telp.022-6034136
BAB
I
PENDAHULUAN
a Latar Belakang
Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu
sebesar 420 per 100.000 kelahiran hidup, resiko tersebut sangat tinggi bila
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya(Mauldin,1994). Langkah utama
yang paling penting untuk menurunkan angka kematian ibu adalah mengetahui
penyebab utama kematian.
Penyakit Asma terdapat 3,4-8,4% pada wanita hamil dan gangguan nafas sangat
sering terjadi pada wanita hamil. Perjalanan asma selama selama kehamilan
sangatlah bervariasi bisa tidak ada perubahan, bertambah buruk atau malah
membaik dan akan kembali ke kondisi seperti sebelum hamil setelah tiga bulan
melahirkan. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap
pende.
Pengaruh
kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama,
bahkan pada seseorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan
pertama dan kehamilan berikutnya. Biasanya serangan muncul pada usia kehamilan
24 – 36 minggu, dan akan berkurang pada akhir kehamilan.
Kehamilan dan persalinan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap
sebagian besar pada fisiologi organ-organ tubuh sehubungan dengan rahim yang
membesar bersama dengan tuanya kehamilan sehingga rongga dada menjadi sempit
dan gerakan paru akan terbatas untuk mengambil O2 selama pernapasan, ini akan
mengakibatkan gangguan pernapasan yaitu Asma. Dalam penatalaksanaannya pun juga
akan berbeda antara Asma dalam kehamilan dan persalinan dengan asma pada wanita
yang tidak sedang hamil atau bersalin.
Sampai sekarang belum ada kesepakatan tentang definisi asma yang dapat
diterima semua ahli. Definisi yang banyak
dianut saat ini adalah yang dikemukakan oleh The American Thoracic
Society yaitu asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea
dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan
jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan
maupun sebagai hasil pengobatan. Asma adalah penyakit paru yang heterogen
dengan obstruksi saluran pernapasan yang sembuh sebagian atau total, spontan
atau dengan terapi. Serangan umumnya singkat, walaupun jarang, asma dapat
berakibat fatal. Secara tradisional asma dapat diklasifikasikan dua kelompok
yaitu alergi ( ekstrinsik ) dan idiosinkrasi
(intrinsik). Asma ekstrinsik merupakan asma yang dipicu oleh alergen
atau mediator IgE. Umumnya terdapat pada orang dan atau riwayat keluarga dengan
penyakit alergi. Sedangkan asma intrinsik jika tidak ditemukan alergen spesifik
sebagai pemicunya, dan terdapat pada pasien tanpa riwayat alergi dalam
keluarganya
Prevalensi asma terjadi pada 4-8% populasi umum. Pada kehamilan
prevalensinya 1-4%. Di Indonesia prevalensi asma berkisar 5-7 %. Kepustakaan
lain menyatakan asma berpengaruh pada 1-9% wanita atau pada 200.000 - 376.000
kehamilan di Amerika setiap tahunnya. Rata - rata morbiditas dan mortalitas
pada wanita hamil sebanding dengan populasi umum. Rata - rata mobilitas asma di
Amerika adalah 2,1 per 100.000.
Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran napas yang sering
dijumpai kehamilan dan persalinan. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya
serangan asma selalu sama terhadap setiap penderita, bahkan pada seorang
penderita asma, serangan tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.
Penyakit ini menimbulkan yang serius pada wanita hamil. Asma yang tidak
terkontrol dengan baik, dapat berpengaruh terhadap ibu dan janin.
Terdapat risiko yang jelas baik pada ibu maupun janin, bila gejala asma
memburuk. Pada penelitian menyatakan asma dihubungkan dengan meningkatnya
kematian perinatal dua kali lipat. Selain itu juga meningkatkan risiko
komplikasi berupa hiperemesis, preeklampsia, dan perdarahan pada pasien yang
mengidap asma, begitupula halnya terjadi peningkatan angka kematian neonatal
dan persalinan prematur. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penanganan aktif
pasien hamil untuk menghindari eksaserbasi akut asma bronkhial.
B.
Rumusan Masalah
1. Menjelaskan
pengertian Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
2. Menjelaskan
Etimiologi Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
3. Menjelaskan
Patofisiologi Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
4. Menjelaskan
Faktor Resiko Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
5. Menjelaskan
Tanda dan Gejala Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
6. Menjelaskan
Komplikasi Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
7. Menjelaskan
Penatalaksanan Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
C. Tujuan
1. Mengetahui
dan Memahami pengertian Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
2. Mengetahui
dan Memahami Etiologi Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
3. Mengetahui
dan Memahami Patofisiologi Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
4. Mengetahui
dan Memahami Faktor Resiko Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
5. Mengetahui
dan Memahami Tanda dan Gejala Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
6. Mengetahui
dan Memahami Komplikasi Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain
7. Mengetahui
dan Memahami Penatalaksanan Asma Bronkhial pada ibu hamil dan bersalain.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Definisi Asma Bronkhial
Asma adalah radang kronis pada jalan
nafas yang berkaitan dengan obstruksi revetsible dari spasme,edema, dan
produksi mucus dan respon yang berlebihan terhadap stimuli.(Varney,Helen.2003).
Asma bronchial merupakan penyakit
pernapasan akut,yang disebabkan oleh allergen, oleh perubahan mencolok pada suhu lingkungan atau oleh ketegangan
emosi. Pada banyak kasus, penyebab actual mungkin diketahui. Suatu riwayat
alergi dalam keluarga dimiliki oleh sekitar 50 % individu dengan asma. Sebagai
respons reaktivitas terhadap stimulus, jalan napas menyempit, sehingga
mempersulit pernafasan. Manifestasi klinisnya adalah mengi pada ekspirasi,
batuk, sputum yang kental dan dispneu.Penyakit asma pada kehamilan
kadang-kadang berat atau malah berkurang. Dalam batas wajar penyakit asma yang
berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim melalui
gangguan pertukaran gas oksigen dan carbondioksida. Pengawasan hamil dan
pertolongan persalinan dapat dilakukan dengan operasi.
Asma bronkial merupakan salah satu
penyakit saluran pernapasan yang sering dijumpai pada kehamilan, mempengaruhi
1-4% wanita hamil. Pengaruh keamilan terhadap timbulnya asma tidak selalu sama
pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak
selalu sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurag dari 1/3 penderita
asma kurang membaik dalam kehamilan lebih dari 1/3 akan menetap, kurang 1/3
lagi akan bertambah buruk pada serangan bertambah berat. Biasanya serangan akan
timbul pada usia 24-26 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi.
Asma Bronchial adalah suatu gangguan
pada saluran bronchial dengan ciri bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada
saluran nafas). Asma merupakan penyakit kompleks yang diakibatkan oleh faktor
biokimia, endokrin, infeksi, otonomik dan psikologi. (Irman Somantri, 2008 :
43)
B. Etiologi
Asma saat ini dipandang
sebagai penyakit inflamasi saluran napas. Adanya inflamasi hiperaktivitas
saluran napas dijumpai pada asma baik pada asma alergi maupun non-alergi. Oleh
karena itu dikenal dua jalur untuk mencapai keadaan tersebut. Jalur imunologi
utama didominasi oleh IgE dan jalur saraf otonom. Pada jalur IgE , masuknya
allergen kedalam tubuh akan diolah oleh APC (Antigen Presenting Cells),
untuk selanjutnya hasil olahan alergen akan dikomunikasikan kepada sel T helper
(T penolong). Sel ini akan memberikan instruksi melalui interleukin atau
sitokin agar sel-sel plasma membentuk serta sel- sel radang lain seperti
mastosit, makrofag, sel epitel, eosinifil, neotrofil, trombosit, serta limfosit untuk mengeluarkan
mediator-mediator inflamasi seperti histamin prostaglandin (PG), leukotrin
(LT), platelet activating factor (PAF), bradikinin, tromboksin (TX) dan
lain-lain akan mempengaruhi organ sasaran menyebabkan peningkatan permeabilitas
dinding vaskuler, edema saluran napas, infiltrasi sel-sel radang, sekresi
mukus, dan fibrosis sub epitel sehingga menimbulkan hiperreaktivitas saluran
napas (HSN). Jalur non- alergi selain merangsang sel inflamasi, juga merangsang
sistem saraf otonom dengan hasil akhir berupa inflamasi dan hiperreaktivitas
saluran napas. Hiperreaktivitas saluran napas diduga sebagian didapat sejak
lahir. Berbagai keadaan dapat meningkatkan hiperreaktivitas saluran napas yaitu
: inflamasi saluran napas, kerusakan epitel, mekanisme neurologis, gangguan
intrinsik, dan obstruksi saluran napas.
Berdasarkan etiologinya
asma dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
v Asma Ektrinsik(atopi)
Ditandai dengan reaksi alergi terhadap pencetus-pencetus spesifik yang
dapat diidentifikasi misalnya : tepung sari jamur,debu,bulu binatang,susu,
telor ikan, serta obat-obatan.
v Asma Intrinsik(non atopi)
Ditandai dengan mekanisme non alergi yang bereaksi terhadap pencetus
yang tidak spesifik misalnya : udara dingin, zat kimia,perubahan musim dan
cuaca, aktifitas fisik yang berlebihan, dan ketegangan mental serta
faktor-faktor lainnya(Antoni C,1997 dan Tjen Daniel,1991).
Penyebab asma pada kehamilan antara lain :
1.
Zat-zat alergi contohnya tepung, debu, bulu, dll.
2.
Infeksi saluran pernapasan.
3.
Pengaruh udara misalnya terlalu dingin, terlalu panas.
4.
Faktor psikis misalnya kelelahan, stress.
C. Patofisiologis
Pemeriksaan yang
dilakukan oleh tim ahli asma kalifornia tahun 1983 pada 120 kasus asma pada ibu
hamil yang terkontrol baik, tedapat 90% dari penderita yag tidak pernah
mendapat serangan dalam persalinan, 2,2% menderita seragan ringan dan hanya
0,2% yang menderita asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obatan intravena.
Pengaruh asma pada ibu hamil dan janin sangat tergantung dari sering dan
beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen dan hipoksia.
Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin
yang sering terjadi keguguran, persalinan premature dan berat janin tidak
sesuai dengan usia kehamilan atau gangguan perumbuhan janin.
Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot
bronkus, penyumbatan mukus, edema dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi
bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisioiogis saluran napas menyempit
pada fase tersebut. Hal ini menyebabkan udara distal tempat terjadinya
obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan
volume residu, kapasitas residu fungsional (KRF), dan pasien akan bernapas pada
volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total (KPT). Keadaan hiperinflasi
ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan
lancar. Untuk mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot bantu napas.
Gangguan yang berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara
obyektif dengan VEP1 (Volume Ekspirasi Paksa detik pertama) atau APE
(Arus Puncak Ekspirasi), sedang
penurunan KVP (Kapasitas
Vital Paksa) menggambarkan derajat
hiperinflasi paru. Penyempitan
saluran napas dapat terjadi, baik pada saluran napas besar, sedang maupun
kecil. Gejala mengi (wheezing) menandakan adanya penyempitan disaluran napas
besar, sedangkan penyempitan pada saluran napas kecil gejala batuk dan sesak
lebih dominan dibanding mengi.
Perubahan
fungsi paru pada kehamilan meliputi 20% karena peningkatan kebutuhan oksigen
dan metabolisme ibu, 40% peningkatan ventilasi semenit dan peningkatan tidal
volume. Terdapat sejumlah perubahan fisiologik dan struktural
terhadap fungsi paru selama kehamilan. Hiperemia, hipersekresi dan edema mukosa
dan saluran pernapasan merupakan akibat dari meningkatnya kadar estrogen. Pada
uterus gravid terjadi peningkatan ukuran lingkar perut, diafragma
meninggi, dan semakin dalamnya sudut antar kosta. Wanita hamil mengalami
peningkatan tidal volume, volume residu, serta kapasitas residu fungsional,
penurunan volume balik ekspirasi, sementara kapasitas vital tidak berubah.
Hiperventilasi alveolar terjadi bila PCO2 menurun dari 34-40 mmHg menjadi 27-34 mmHg,
yang biasanya terlihat pada umur kehamilan 12 minggu. Seperti yang diperkirakan,
frekuensi terjadinya serangan eksaserbasi asma puncaknya pada umur kehamilan
sekitar enam bulan, gejala yang berat biasanya terjadi antara umur kehamilan 24
minggu - 36 minggu.
Jelasnya patofisiologi asma adalah sebagai berikut:
1)
Kontraksi
otot pada saluran napas meningkatkan resistensi jalan napas
2)
Peningkatan
sekresi mukosa dan obstruksi saluran napas
3)
Hiperinflasi
paru dengan peningkatan volume residu
4)
Hiperaktivitas
bronkhial yang diakbitkan oleh histamin,prostaglandin dan lukotrin.
Degranulasi sel mast menyebabkan terjadinya asma
dengan cara pelepasan mediator kimia, yang memicu peningkatan resistensi jalan
napas dan spasme bronkus. Pada kasus kehamilan alkalosis respiratori tidak bisa
dipertahankan diawal berkurangnya ventilasi, dan terjadilah asidosis. Akibat
perubahan nilai gas darah arteri pada kehamilan (penurunan PCO2 dan
peningkatan pH). Pasien dengan perubahan nilai gas darah arteri secara
signifikan merupakan faktor risiko terjadinya hipoksemia maternal, hipoksia
janin yang berkelanjutan. dan gagal napas.
D.
Faktor
Resiko/Predisposisi
1.
Faktor Genetik
Dimana yang
diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai
keluarga dekat juga menderita alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor
pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernapasannya juga bisa
diturunkan.
2. Faktor Prepisitas
a.
Alergi
·
Dimana, yang masuk melalui saluran pernapasan
Ex : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
·
Ingestan, yahg
masuk melalui mulut
Ex : Makanan dan obat-obatan
·
Kontaktan, yang
masuk melalui kontak dengan kulit.
Ex : perhiasan, logam, dan jam tangan
b. Perubahan Cuaca
Cuaca lembab
dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang
serangan berhubungan dengan musim, seperti : musim hujan, musim kemarau, musim
bunga,. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga danb debu
c.
Stress
Stress /
gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul
harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress / gangguan emosi
perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika
stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
d.
Lingkungan
Kerja
Mempunyai
hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja dilaboratorium hewan,
industri tekstil, pabrik asbes, polusi lalu lintas. Gejala ini membaik pada
waktu libur atau cuti.
e.
Olahraga / aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar
penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau
olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.
Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai
aktifitas.
f.
Obat-obatan
Beberapa pasien asma bronkial sensitif atau alergi
terhadap obat tertentu seperti penicillin,salisilat,beta blocker, dan kondein.
E.
Tanda dan
Gejala
a.
Nafas pendek
b.
Nafas terasa sesak dan yang paling khas pada penderita
asma adalah terdengar bunyi wheezzing yang timbul saat menghembuskan nafas.
c.
Batuk kering
d.
Pada kehamilan, biasanya serangan asma akan timbul
pada usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu dan pada akhir kehamilan
serangan jarang terjadi.
e. Kenaikan denyut nadi
f. Kejang otot di sekitar dada
Adapun
tingkatan klinik asma dapat dilihat pad atabel berikut dibawah ini :
Tingkatan
|
PO2
|
PCO2
|
pH
|
FEVI (%
predicted)
|
Alkalosis respiratori ringan
Alkalosis respiratori
Tingkat waspada
Asidosis respiratori
|
Normal
↓
↓
↓
|
↓
↓
Normal
↓
|
↑
↑
Normal
↑
|
65 – 80
50 – 64
35 – 49
< 35
|
F.
Komplikasi
Asma sewaktu kehamilan terutama asma yang berat dan tidak terkontrol dapat
menyebabkan peningkatan resiko komplikasi perinatal seperti preeklampsi,
kematian perinatal, prematur dan berat badan lahir rendah.
Komplikasi untuk ibu pada asma
yang tidak terkontrol adalah kemungkinan :
1)
Abortus
2)
Perdarahan vagina
3)
Persalinan premature
4)
Solusio plasenta 2,5%
5)
Korioamnionitis 10,4%
Efek pada janin :
Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
1)
Menurunnya aliran darah pada uterus
2)
Menurunnya venous return ibu
3)
Kurva dissosiasi oksiHb bergeser ke kiri
Sedangkan pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
1)
Menurunnya aliran darah ke tali pusat
2)
Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru dan
sistemik
3)
Menurunnya cardiac output
Asma yang tidak ditangani
dapat menyebabkan BBLR (Berat badan Lahir rendah). Jika ibu sering mengalami
serangan asama selama hamil, maka dapat menyebabkan suplai oksigen ke janin
yang sangat diperlukan sel darah merah untuk mengangkut nutrisi ke janin
menjadi teganggu sehingga janin dapat mengalami hipoksia dan pertumbuhannya
menjadi terhambat (IUGR). Terhadap ibu didapatkan juga beberapa keadaan seperti
preeklampsia 3,3%, hipertensi selama kehamilan 8%, solusio plasenta 2,5%,
korioamnionitis 10,4% dan persalinan dengan seksio sesar 26,4%. Oleh karena itu
diperlukan perhatian ekstra terhadap ibu dan janin pada wanita hamil dengan asma.
G. Penatalaksanan
Prinsip umum
pengobatan asma bronchial adalah :
a. Menghilangkan
obstruksi jalan nafas dengan segera.
b. Mengenal dan
menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma.
c. Memberikan
penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik
pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti
tujuan pengobatannya yang diberikan dan bekerja sama dengan dokter atauperawat
yang merawatnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi
2 , yaitu :
1. Pengobatan non Farmakologik.
·
Memberikan penyuluhan
·
Menghindari faktor pencetus
·
Pemberian cairan
·
Fisiotherapy
·
Beri O2 bila perlu
2. Pengobatan Farmakologi
Ø Bronkodilator yang melebarkan saluran nafas
Seperti aminofilin atai kortikosteroid inhalasi atau oral pada serangan
asma ringan. Obat antiasma umumnya tidak
berpengaruh negatife terhadap janin kecuali adrenalin.
v Adrenalin mempengaruhi
pertumbuhan janin karena penyempitan pembuluh daraj ke janin yang dapat
mengganggu oksigenasi pada janin tersebut.
v Aminofilin
dapat menyebabkan penurunan kontraksi uterus
Ø Menangani serangan asma akut (sama dengan wanita tidak hamil), yaitu :
v Memberikan
cairan intravena
v Mengencerkan
cairan sekresi di paru
v Memberikan
oksigen (setelah pengukuran PO2, PCO2) sehingga tercapai
PO2 lebih 60 mmHG dengan kejenuhan 95% oksigen atau normal.
v Cek fungsi paru
v Cek janin
v Memberikan obat
kortikosteroid
Ø Menangani status asmatikus dengan gagal nafas
v Secepatnya
melakukan intubasi bila tidak terjadi perubahan setelah pengobatan intensif
selama 30 – 60 menit
v Memberikan
antibiotik saat menduga terjadi infeksi
Ø Mengupayakan persalinan
v Persalinan spontan dilakukan saat pasien tidak berada
dalam serangan
v Melakukan
ekstraksi vakum atau forseps saat pasien berada dalam serangan
v Seksio sesarea
atas indikasi asma jarang atau tidak pernah dilakukan.
v Meneruskan
pengobatan reguler asma selama proses kelahiran.
v Jangan
memberikan analgesik yang mengandung histamin tetapi pilihlah morfin atau
analgesik epidural.
v Hati-hati pada
tindakan intubasi dan penggunaan prostagladin E2 karena dapat menyebabkan
bronkospasme.
Ø Memilih obat yang tidak mempengaruhi air susu.
v Aminofilin
dapat terkandung dalam air susu sehingga bayi akan mengalami gangguan
pencernaan, gelisah dan gangguan tidur.
v Obat antiasma
lainnya dan kortikosteroid umumnya tidak berbahaya karena kadarnya dalam air
susu sangat kecil
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan nafas terutama
sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi, sesak
nafas, dada terasa berat, dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil.
Asma Bronchial adalah suatu gangguan
pada saluran bronchial dengan ciri bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada
saluran nafas). Asma merupakan penyakit kompleks yang diakibatkan oleh faktor
biokimia, endokrin, infeksi, otonomik dan psikologi. (Irman Somantri, 2008 :
43).
Adapun faktor-faktor pencetus yang dapat
menyebabkan terjadinya asma yaitu seperti Alergen, infeksi saluran nafas, stress, olah raga / kegiatan jasmani
yang berat, obat-obatan, polusi udara, dan lingkungan
kerja.
B. Saran
Diharapkan pada seluruh tenaga kesehatan mampu
melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada ibu hamil dengan penyakit
asma yang lebih komprehensif dalam
melaksanakan asuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Fadlun. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika
Nugraheny, Esti. 2010. Asuhan Kebidanan Pathologi. Yogyakarta :
Pustaka Rihama
Prawirohardjo Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar